Jalan-Jalan Murah ke Jepang: Menunaikan Mimpi Keluarga Kecil Kami

Jpeg
Salah satu bangunan di komplek Kuil Meiji Jingu

Ini sebenarnya cerita lama, ketika kami sekeluarga akhirnya berhasil jalan-jalan ke Jepang. Sebagai orangtua yang otaku semasa remaja, Jepang adalah salah satu Negara incaran liburan kami sekeluarga. Alhamdulillah suatu hari Pak Suami mendapat kemudahan dari Allah yaitu kesempatan perjalanan dinas yang dibiayai pemerintah Jepang.

Jadi kami liburan ke Tokyo, Jepang pada pertengahan bulan Mei seminggu setelah Golden Week berakhir, saat itu suhu masih terasa cukup sejuk.

Kami bertiga berangkat dari Jakarta menuju bandara Haneda, Tokyo, sendiri-sendiri! Iya, sendiri-sendiri, saya dan Malika naik pesawat Garuda yang sedang diskon sementara Pak Suami naik maskapai ANA yang harganya berkali-kali lipat karena dibayari sponsor. Waktu itu saya dapat harga tiket maskapai Garuda kelas ekonomi 4.5 juta pp Jakarta-Haneda.

Perjalanan saya dan Malika menuju Tokyo bisa terbilang cukup lancar, meskipun Malika sedang agak demam selama perjalanan. Sesampainya di Haneda hari sudah menjelang siang, saya langsung mencari troli barang yang bisa dinaiki anak. Sedari awal, saya sudah diwanti-wanti Pak Suami agar mandiri mengurus segala sesuatunya dari sejak turun pesawat sampai ke tempat penginapan.

Singkat cerita, selepas imigrasi, saya menunggu bagasi berupa satu koper ukuran sedang dan stroller anak. Begitu kami selesai mengurus bagasi saya menuju keluar ke terminal kedatangan untuk membeli simcard Jepang dan menukarkan uang.

Saya memutuskan untuk naik taksi dan bukan bis atau kereta dari Haneda ke lokasi hotel penginapan kami di Shinagawa karena lumayan repot juga satu tangan mendorong stroller dan satu tangan menarik koper. Ongkos taksi dari Haneda ke Shinagawa lumayan mahal, sekitar 200-300 JPY, bandingkan dengan naik kereta yang cuma 20-50 JPY.

1. Mengunjungi Ueno Park dan Museum Alam dan Sains/National Science and Nature Museum Jepang

Pemberhentian pertama kami adalah ke Ueno Park. Tujuan utamanya adalah ke Museum Nasional Alam dan Sains Jepang yang terletak di Ueno, katanya sih ini salah satu museum tertua di Jepang. Tujuan utama ke sini tentu saja untuk ngajak Malika jalan-jalan ke museum yang banyak displaynya. Lumayan menarik sih, cuma untuk ukuran museum anak emg ngga terlalu luas areanya, dan waktu kami kesana lumayan penuh pengunjung, hampir semuanya keluarga.

Overall, tujuan utama tercapai sih main ke sini karena Malika suka banget dinosaurus dan di museum ini ada dua lantai yang khusus menyajikan display dinosaurus, tepatnya ruang pajang era prasejarah.

2. Mengunjungi Akihabara dan Harajuku

Karena kami berdua (ngakunya) agak otaku, maka tentu saja kami wajib mengunjungi Akihabara. Surga para otaku sedunia (katanya). Karena waktu berkunjung kami singkat, kami langsung menuju Yodobashi Akiba, pusat perbelanjaan yang wajib didatangi otaku, hahaha. Gedung landmark Akihabara ya disini ini, toko elektronik kelas dunia yang menjual segala macam mulai dari kamera sampai anime goods dan tentu saja favorit pak suami yaitu GUNDAM.

Sayang banget jam buka tempat ini cuma dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Harganya lumayan bersaing dan emang koleksinya sangat variatif, mau cari apa dah, semua ada. Kami di sini beli mainan untuk Malika dan bbrp boks Gundam untuk Pak Suami. Jangan lupa siapkan paspor ya saat membayar karena akan diminta oleh kasirnya.

Di sekitar Yodobashi Akiba ada cukup banyak kafe-kafe dan tempat game. Mau beli softcream? Ada! Mau beli takoyaki? Ada! Mau beli semacam wafel bentuk robot Gundam isi kacang manis? Ada!

3. Mengunjungi Kuil Meiji Jingu di Shibuya

Sebenarnya kami ngga berencana mengunjungi kuil karena masa sih ada kuil di Tokyo, bukannya kalau mau main-main ke kuil itu harus ke Kyoto? Tapi ternyata tidak Saudara-Saudara, ada banyak kuil di Tokyo. Termasuk salah satunya, Kuil Meiji Jingu di pusat kota Shibuya yang kebetulan dekat dengan Harajuku.

Komplek kuil Meiji Jingu ini sangat luas, megah dan terawat dengan baik. Banyak spot foto-foto yang menarik. Jalan masuk dari gerbang utama ke komplek kuil ini lumayan jauh sih, sekitar 300-400 meter, jalan utamanya belum diaspal hanya dilapisi kerikil kecil, dan dipenuhi deretan pohon ginko di sisi setapak.

Saya membayangkan kalau kita main ke Meiji Jingu saat musim gugur pasti bagus banget, karena sepanjang jalan daun-daun pohon ginko sudah berubah warna jadi kuning dan oranye keemasan.

4. Mengunjungi Tokyo Tower

Tokyo Tower ya gitu deh, hahaha. Ini bukan tujuan utama kami sih, makanya mampir ke sini malah pas udah tutup. Cuma sebagai syarat aja bahwa udah nyampe Jepang yaitu menginjakkan kaki di suatu tempat yang bisa foto-foto sama Tokyo Tower hehe.

Kita pergi ke Tokyo Tower diantar oleh host AirBnB kami, seorang pengusaha rumah makan ramen. Setelah mampir melihat Tokyo Tower, kami pun diantar melihat Rainbow Bridge di Odaiba yang jaraknya tidak jauh dari Tokyo Tower. Kedua obyek wisata ini sengaja kami kunjungi saat malam hari karena tampilannya lebih indah dengan banyak lampu di malam hari.

odaiba rainbow bridge
Bersama host Air BnB kami yang super baik, foto di pinggir jalan tol dekat Rainbow Bridge

5. Main ke Aquarium Shinagawa

Kalau dua tempat ini sebenarnya tidak kami rencanakan, lebih karena kepepet waktu saja. Saat itu adalah hari terakhir kami di Tokyo, dan kami memutuskan memutari area sekeliling hotel kami di Shinagawa, mencari tempat-tempat yang ramah anak. Ternyata di dekat situ ada Aquarium Shinagawa, cusslah kami jalan ke sana.

Aquarium Shinagawa ini meski kecil (bandingannya sama Seaworld di Jakarta hahaha) tapi cukup lengkap dan menarik. Daya tarik utama aquarium ini adalah terowongan atau tangki air dengan ikan-ikan di atas kepala kita. Terowongannya pendek aja, nggak sepanjang dan sebesar Seaworld.

Ada area khusus untuk setiap spesies dan ada informasi yang ditulis untuk setiap pameran. Malika senang berlarian ke sana sini dari satu enclosure ke enclosure ikan lainnya. Penjelasan untuk tiap spesies ikan ngga terlalu banyak, dan sebagian besar dalam bahasa Jepang pula, jadi yaaa…gitu deh. Ada kolam sentuh yang isinya selain ikan spa juga para binatang lembek menggeliut, bintang laut, teripang, dll.

Di sini juga ada pameran hiu di mana Anda bisa melihat hiu pada tampilan 180 derajat. Anda dapat melihat banyak makhluk unik seperti singa laut, bintang laut, ikan pari, kura-kura, pari manta, dan ular laut juga. Ada arena khusus terbuka untuk melihat pertunjukan ikan lumba-lumba juga.

Tagline dari aquarium ini adalah budget friendly aquarium, dan emg lumayan murah sih, saya kena charge 1350 JPY dan Malika hanya kena 300 JPY.

6. Area Tennozu Isle

Surprise, ternyata hidden gem ini ada di sekitar hotel kami. Area ini ternyata cukup sering jadi lokasi syuting di Tokyo, terutama jembatan Isle dan sekitarnya. Dari jembatan Isle, yang sepertinya khusus diperuntukkan pejalan kaki dan pesepeda, kami juga melipir di pelataran kayu/board walk di sepanjang pinggiran sungai ngeliatin kapal yg lewat di malam hari dan orang-orang yg baru kelar fancy dinner, cakep banget, Masya Allah.

tennozu island
gbr ddiambil dari https://www.e-tennoz.com/en/enjoytennoz/dateplan.html

Tur lengkap versi romantis di sekitar daerah Tennozu ini bisa dicek di sini:  https://www.e-tennoz.com/en/enjoytennoz/dateplan.html

TIPS JALAN-JALAN KE JEPANG

  1. Naik Taksi

Sepengalaman saya, sebagian besar pengemudi taksi di Tokyo tidak berbahasa Inggris. Kalaupun bisa, hanya Inggris sederhana dan sulit dipahami (untuk saya). Mungkin karena alasan budaya para pengemudi taksi ini tidak akan bilang tidak bisa Bahasa Inggris, cuma ngangguk-ngangguk aja dgn super ramah, bilang yes, dan langsung jalan.

Kalau mau naik taksi di Tokyo, biasakan membawa buku notes kecil dan pulpen. Tuliskan alamat lengkap tempat yang ingin kita tuju lengkap di notes dan tunjukkan pada pengemudi taksi. Pastikan ia paham tempat yang ingin kita tuju. I learned this the hard way, dua kali nyasar ke alamat yang salah, padahal saya sdh tunjukkan tulisan berisi alamat lengkap yang saya tuju. Sampai kemudian saya tunjukkin alamatnya dlm alfabet dan hiragana juga dan cuss lah kita nyampe.

taxi in tokyo
ilustrasi dari situs ini: https://www.timeout.com/tokyo/things-to-do/how-to-catch-a-cab-in-tokyo
  1. Stroller Anak

Bawalah stroller yang kecil dan ringan, terutama bila kita berencana mengandalkan kereta untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seringkali di kereta yang padat penumpang kita tidak akan dapat tempat duduk, bahkan memasukkan stroller ke dalam kereta yang padat saja sulit. Ditambah lagi sebagian besar stasiun kereta di Tokyo tidak ramah stroller karena hanya ada undakan tangga panjang yang lumayan bikin ngos-ngosan.

Kalau saya berkesempatan membawa anak ke jepang lagi (Aamiiiinnn…), saya rencananya mau bawa/beli stroller ringan Aprica yang cuma 3,5 kg beratnya. Saya lihat mamah-mamah Jepang banyak bawa stroller yang ringkes lagi ringan kaya modelnya Aprica ini. Kalau dibandingka Aprica, stroller yg saya bawa utk Malika lbh cocok utk trekking drpd explore city yes….

  1. Memilih Penginapan

Selama di Tokyo kami menginap di dua tempat, pertama di chain hotel Toyoko Inn, di Shinagawa-ku 2-2-35. Yang kedua kami menginap tiga hari dua malam di apartemen Air BnB masih di sekitaran Shinagawa. Harga menginap di Toyoko Inn dan di apartemen Air BnB beda tipis tapi kualitas pelayanannya beda jauh, mungkin karena kami beruntung dapat tenant Air BnB yang baik hati banget.

Dari sisi lokasi, Toyoko Inn Shinagawa lebih strategis karena dekat sekali ke stasiun Shinagawa, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Apartemen kami yang saya pilih dari listing Air BnB terletak di salah satu jejeran bangunan flat di Shinagawa. Secara ukuran dan tata letak mirip bangetlah sama apartemen bersubsidi.

Kami menginap di sebuah apartemen studio yang ditata dengan sangat homey. Sempit bgt tempatnya, tapi sudah lengkap dengan segala bathtub (ukuran mini! Tapi muat euy!), dapur kecil, mesin cuci, area foyer, dan bahkan teras kecil yang asik banget buat duduk-duduk pagi atau sore hari.

life in apartment tokyo

Sayangnya sekarang sepertinya menyewakan apartemen via AirBnB di Jepang sudah semakin dibatasi regulasi, jadi mungkin opsi apartemen yang disewakan sudah tidak sebanyak dahulu.

  1. Mencari Makan Halal di Jepang

Iseng-iseng browsing tentang bento halal di Jepang waktu di hotel dan ternyata gampang banget pesennya. Tinggal buka website https://tdjapan.com dan pilih pesanannya. Waktu itu saya pesan Yakitori Bento (1500 JPY) dan Anago Bento (2500 JPY), dalam kemasan vakum. Ongkir flat rate 750 JPY untuk sekali antar jadi semakin banyak yang pesan semakin hemat. Cukup bayar dengan kartu debit di websitenya dan dalam beberapa jam saya sudah ditelpon oleh FO hotel karena ada paket halal bento menunggu di bawah.

Harga bento halal ini lumayan mahal untuk ukuran lunch di Tokyo, kalau kita bukan muslim yang bisa makan apa saja, makan siang biasa di Tokyo biasanya berkisar antara 500-1000 JPY per orang. Oh iya, kotak bento ini juga ada penahan panas otomatisnya, jadi bisa dimakan hangat-hangat kapanpun kamu buka. Canggih!

Sisi posistifnya, bento halal ini rasanya ENAK BANGET. Kayanya ini bento paling enak yang pernah saya makan seumur hidup saya, beneran. Segala sushi, sashimi, bento, sukiyaki dll yang pernah saya icip di restoran Jepang HALAL di Indonesia rasanya tidak sebanding dengan rasa bento halal ini. Sayurannya segar dan diolah dengan sangat baik hingga rasa umami alaminya sangat menonjol. Nasinya pulen banget. Telur dadarnya sangat lembut. Bahkan saya heran konyaku aja kok bisa seenak ini.

Untuk pilihan makanan halal yang murah, kami biasanya mampir ke 7 eleven, beli roti tawar, selai, dan onigiri kosongan (salted onigiri), dan salmon onigiri. Atau beli ajalah telor mentah dan diceplok sendiri hahaha. Pokoknya murah meriah. Pak suami sih sukanya beli soba dingin (buckwheat soba) di 7 eleven yang aman buat vegetarian, udah deh itu soba disiram air panas dan dimakan bareng telor ceplok, yammyyy….

Advertisements

Review Novel The Fallen Angel: A Tribute to Ibu N.H Dini

iLUSTRASI-Cover.jpg

Judul buku      : The Fallen Angel

Pengarang      : Zulfairy

Penerbit           : PT. Syaamil Cipta Media

Tempat terbit   : Bandung

Tahun terbit     : 2006

Tebal buku      : 306 halaman

Jenis buku       : Fiksi Remaja

Editor              : Tasaro G.K

Tema cerita ini adalah perwujudan segala -isme yang saya serap selagi berkuliah di semesta fisipol UGM. Feminisme, Nihilisme, Liberalisme, Modernisme, dan isma-isme lain. Inti plotnya adalah how angels fall from grace, bagaimana iman seseorang jatuh bangun, tersesat meski akhirnya menemukan jalan pulang.

Saya kira isi novel ini atuhlah seberat batu bata, bisa buat nimpuk orang di kepala sampai kliyengan hahaha. Padahal waktu mulai menulis novel ini, rasanya usia saya baru saja genap 20 tahun, tapi rasanya sudah penat oleh berbagai teori tentang kelangsungan hidup manusia dan dunia ini.
.
Saya dengan ambisius mengambil POV atau sudut pandang penceritaan dua tokoh (namanya Rama dan Alimah, satu cowok dan satu cewek), saya juga mengambil setting dua negara (Indonesia dan Swiss), dan berusaha menggunakan empat bahasa (Indonesia-Inggris-Prancis-Jerman). Karakter-karakter saya dalam novel ini amat padat, muncul dengan latar belakang mereka masing-masing, berjalin berkelindan, rumit bukan kepalang.

Untunglah, berkat bimbingan editor-editor buku saya sewaktu itu (Kang Tasaro G.K dan Mba Nanik Kinan Nasanti) dengan materi seberat dan sepadat itu saya mampu menyampaikannya dengan ringan dan mengalir, menghanyutkan pembaca tanpa terasa.

Bahkan novel inipun mendapat pujian dari editor saya saat itu, Tasaro G.K. Beliau juga merupakan penulis kenamaan yang terkenal dengan novel tetralogi Muhammad-nya. Beliau berkenan memberikan endorsement yang membuat saya menitikkan airmata sebagai berikut:

Novel ini meyakinkan saya, sebuah bakat besar baru menemukan jalannya. Sentuhannya atas pilihan tema yang “sulit” bahkan membuat Anda tak berhenti membalik halaman demi halamannya. Saya jamin, Anda akan mendapatkan lebih dari yang Anda harapkan dari sebuah novel. 

Selain Kang Tasaro G.K, Direktur saya ketika bekerja di Balai Pustaka dan juga penulis tetap kolom di surat kabar Republika, Bapak Zaim Uchrowi, juga pernah memanggil saya ke ruangannya. Sambil menimang novel The Fallen Angel ini di tangan, beliau berkata:

Saya akui bahwa beberapa prosa kamu di novel ini luar biasa. Ada kalimat-kalimat pembuka dan teknik bercerita yang tidak lazim, sangat kreatif untuk anak muda seperti kamu, pilihan diksi yang saya tidak pernah pikirkan sebelumnya. Kamu terpengaruh gaya menulis siapa?

Barulah saat itu saya tersentak, terpengaruh? Gaya menulis saya terpengaruh siapa?

Saya pun membaca ulang naskah novel The Fallen Angel ini dan menyimpulkan: ini efek N.H Dini. Gaya bercerita dan cara saya menata tokoh-tokoh saya sangat terinspirasi oleh buku N.H Dini yang berjudul “Pada Sebuah Kapal”. Sebuah novel yang dipuji para kritikus sastra sebagai salah satu novel terbaik N.H Dini.

Tentu saja teknik bercerita saya di novel Fallen Angel masih kalah jauh dibanding sang Maestro, Ibu N.H Dini, yang sudah diakui sampai ke level Internasional. Nggak usah dibahas lah yah betapa jauh bedanya.

pada sebuah kapal

Pada intinya, ketika saya akhirnya merampungkan novel saya yang pertama, novel itu menjadi sebuah tribute, sebuah penghargaan atas betapa besarnya pengaruh kalimat-kalimat yang diukirkan Ibu N.H Dini dalam novel-novelnya. 

Saya yang pertama kali membaca novel Pada Sebuah Kapal ketika masih piyik berseragam putih merah, ternyata masih dan terus mengingat lekuk alur gaya bercerita dan sudut pandang yang disajikan dalam novel itu, belasan tahun kemudian. Novel Pada Sebuah Kapal adalah salah satu novel yang menghamparkan kekuatan kata dan bahasa pada saya, seluas-luasnya. Penuturan N.H Dini dalam novel itu amat indah dan berkesan, saya tidak merasa sedang disajikan sebuah karya sastra melainkan sebuah wawancara, seperti tokoh-tokohnya berbicara di depan saya.

Bahkan idealisme yang ada dalam novel Pada Sebuah Kapal, yaitu tentang budaya patriarki dan bagaimana liku perjuangan perempuan untuk lepas dari kungkungannya juga menjadi semangat dalam novel saya. Meski tantangan yang saya gambarkan dalam novel saya lebih merupakan tantangan feminisme modern, tetapi kurang lebih sejalan dengan tokoh Sri dalam Pada Sebuah Kapal, dimana ia merasa frustasi karena sebagai perempuan ia harus mengubur cita-citanya karena dituntut untuk segera bersuami dan menjadi istri yang baik dan patuh untuk meningkatkan martabat keluarganya.  Sri pun berusaha memberontak, namun pemberontakan itu seperti sekam, tak pernah berkobar, sekali nyalanya membesar, namun Sri tak mau terbakar hangus di dalamnya. Ia tetap menjadi perempuan Jawa yang setia pada nilai-nilainya.

Tokoh Alimah dan tokoh Riri di dalam novel saya pun berkonflik karena kredo-kredo feminisme, bagaimana mereka bisa terjebak dalam frustasi yang berkepanjangan karena merasa tidak dianggap utuh sebagai perempuan, namun ternyata menyerapi feminisme dan mengobarkan perang atas patriarki bukanlah jawabannya.

Tentu saja novel pertama saya ini banyak kekurangannya, jauh bila dibandingkan N.H Dini. Seperti yang disampaikan salah satu reviewer novel saya yamg saya kutip dari dari: http://risalusiana13.blogspot.com/ yaitu:

Kelemahan novel ini yaitu jalan ceritanya maju mundur,karena mengingat kejadian sebelum semua tokoh bertemu di tengah-tengah jalannya cerita.

Bahasanya ada yang menggunakan bahasa asing. Tiba-tiba pengarang menceritakan asal usul satu tokoh dan menghilangkan cerita tokoh yang lain dan tiba-tiba memunculkan kembali semua tokohnya. Itu membuat pembaca bingung ketika menganalisis jalan ceritanya. Padahal masalah yang dihadapi tokoh lain belum selesai. Munculnya banyak tokoh secara bersamaan tanpa dijelaskan karakteristiknya.

Ya, alur bercerita dalam novel saya ini memang kadang membingungkan banyak pembaca, apalagi pembaca yang awam dan terbiasa dengan alur maju yang monoton, dimana semua tokoh dikenalkan satu-satu, tertata dan tertebak. Saya sering mendapat feedback bahwa novel saya sulit dipahami, namun sering juga dipuji bahwa cara bercerita saya unik dan memikat, membuat penasaran dan tidak cepat bosan. Bahkan ada seorang remaja usia 16 tahun, anak anggota DPR, yang begitu tahu saya yang menulis novel ini, ia langsung memandang saya dengan serius:

“Gimana caranya bisa nulis seperti itu Kak. Aku ngga bisa berhenti bacanya.”

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa novel ini seperti kecantikan seorang wanita, serba relatif, serba perseptif. It is in the eye of the beholder. 

 


 

Ibu, Anakmu Benci Hapemu

child-sitting-1816400_960_720

 

Kuharap hape Ibuku tidak pernah ada.

 

Pada pertengahan bulan Mei 2018, sebuah tulisan yang mengangkat celoteh murid tingkat dua di sekolah dasar kota bagian Louisiana, Amerika Serikat, menjadi viral di sosial media facebook. Tulisan itu diawali oleh pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru mereka, Jen Adams Beason, untuk menulis penemuan teknologi manakah yang tidak mereka sukai dan apa alasannya.

Jawaban yang diterima Beason dari seorang muridnya untuk tugas tersebut ternyata sangat mengejutkan. Seorang anak perempuan terang-terangan menulis bahwa: Aku benci hape ibuku.

Si anak bahkan melengkapi jawabannya dengan gambar buatannya sendiri, dimana ia menggambar telepon pintar ibunya kemudian memberikan tanda X besar di atasnya. Di sisi atas dari telepon pintar yang dicoret tersebut, si anak menggambar wajah sedih dengan balon kata: “Aku benci.”

blogs-trending-44224319

Beason mengunggah dan membagikan jawaban si anak dan gambarnya ke sosial media untuk mengangkat pentingnya bahaya kecanduan gawai pada orangtua.

Gawai adalah padanan kata bahasa Indonesia untuk gadget, dimana telepon genggam dan tablet termasuk di dalamnya. Dari 21 anak di kelasnya, ungkap Beason, ada 4 anak yang memberikan jawaban serupa. Alasan mereka tidak menyukai gawai karena orangtua mereka tak lepas dari menggunakan gawai sepanjang hari. Penggunaan gawai adalah kebiasaan yang buruk, kata mereka.

Jawaban anak-anak di kelas Beason yang diunggah ke sosial media menjadi viral dan dibagikan oleh ratusan ribu orang. Isu yang diangkat dalam unggahan Beason adalah pentingnya penanganan kecanduan gawai pada orang dewasa, bukan hanya pada kalangan anak dan remaja.

Selama ini, sebagian besar penelitian perilaku menyoroti dampak penggunaan gawai pada anak dan remaja. Porsi perhatian yang diberikan pada intensitas penggunaan gawai orang dewasa, terutama pada orangtua, masih terhitung jarang. Hal ini sangat disesalkan karena waktu yang terpakai untuk menggunakan gawai secara berlebihan dapat mengurangi waktu interaksi dan perlekatan/bonding antara orangtua dan anak.

Sebuah studi oleh McDaniel, dkk., yang dipublikasikan pada tahun 2018 menemukan adanya relasi antara terganggunya hubungan atau interaksi antar orangtua dan anak karena faktor yang berhubungan dengan teknologi dan gangguan perilaku pada anak.

Penelitian ini melibatkan kurang lebih 170 keluarga di Amerika Serikat yang menemukan bahwa ‘technoference’ atau gangguan minor/interference akibat teknologi dalam interaksi orang tua dan anak dapat menyebabkan gangguan perilaku pada anak, terutama pada kelompok umur usia dini. Gangguan perilaku ini dapat berupa kecenderungan untuk lebih rewel, lebih banyak merengek, menunjukkan tanda-tanda frustasi, dan ketidakstabilan emosi atau tantrum.

technoference

Sayangnya, kecanduan gawai pada orang dewasa belum dianggap sebagai prioritas untuk ditanggulangi. Sebagian besar dari kita masih menganggap normal ketika sang anak bermain ditemani ayah atau bundanya yang sibuk menekuni gawai mereka masing-masing. Kehadiran orangtua yang palsu atau fake absence ini merujuk pada keberadaan orangtua secara fisik hadir di sekitar aktivitas anak mereka namun fokus dan perhatian mereka seringkali teralihkan bukan pada anak tetapi pada isi gawai mereka.

Dalam laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat hasil survey yang menyebutkan bahwa anak-anak sangat berharap orangtua mereka dapat meninggalkan gawainya dan bermain bersama mereka. Selain itu, terdapat pula artikel yang memberikan peringatan atas bahaya bermain gawai sambil mengasuh anak karena berpotensi mengganggu perkembangan bahasa anak dan merusak ikatan sosial antara anak dengan orang tua.

Hasil penelitian Hiniker, dkk., yang dipublikasikan pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa 35 persen orangtua menghabiskan rata-rata 12 menit tiap jamnya menekuni gawai mereka sambil menemani anak bermain di taman atau di lingkungan luar.

Mungkin berfokus pada gawai selama 12 atau 15 menit per jam bukanlah angka yang cukup mengkhawatirkan, toh kita tetap mengalokasikan lebih banyak waktu untuk mengawasi keaktifan polah anak kita dan terutama keselamatan mereka. Namun yang harus digarisbawahi di sini adalah betapa seringnya perhatian kita beralih, bahkan tanpa sadar, pada gawai kita.

Dalam penelitian McDaniel, dkk., bahkan pada orangtua yang mengakui terjadinya technoference hanya sekali dalam sehari –tingkatan yang dianggap cukup normal terjadi, tetap menyebabkan dampak perubahan perilaku pada anak. Sebuah pola negatif pengasuhan pun terbentuk, dimana anak merasa bahwa orangtua menjadi kurang atau tidak responsif bila tengah berhubungan dengan gawai. Anak menjadi merasa perlu mengekspresikan kecemasan dan rasa tidak amannya bila orangtua tengah menengok gawainya.

Menyadari Betapa Pintarnya Gawai

Apakah yang bisa dilakukan orangtua untuk mengurangi technoference ini? Bagaimana orangtua bisa mengurangi fake presence, kehadiran semu mereka dalam aktivitas keseharian anak? Pertama-tama orangtua harus menyadari betapa pandainya gawai yang mereka gunakan. Gawai dijuluki sebagai alat pintar atau smartphone bukanlah tanpa alasan. Gawai memang didesain sedemikian rupa untuk menjadi alat yang bisa menyibukkan dan menyita perhatian anak, remaja, bahkan dewasa.

Gawai telah menjadi gaya hidup orangtua modern yang tak terpisahkan dari keseharian. Kita hampir tidak pernah mematikan gawai kita, karena kita bergantung pada begitu banyak fungsi yang tersedia di dalamnya. Menelepon, mengecek tanggal, melihat email, menjual barang, membeli barang, menambah wawasan, memperluas pergaulan, dan lain-lain.

Infografis HP
Gawai dalam Hidup Kita (infografis disusun oleh penulis)

 

Namun, tahukah Anda bahwa gawai kita memang didesain secara khusus untuk menyita perhatian? Gawai kita diberikan warna-warna sedemikian rupa yang membuat mata kita terus membuka. Musik dan efek suara yang mengundang. Berbagai notifikasi silih berganti yang memanggil dan imbalan-imbalan kecil bila kita mematuhi instruksi dari gawai kita.

Setelah sepenuhnya menyadari bahwa gawai kita memang didesain untuk menyita waktu kita, kita dapat mulai mengendalikan penggunaan gawai. Apabila orangtua seringkali mengkhawatirkan intensitas penggunaan gawai pada anak, kini pola pikir tersebut perlu diubah menjadi dua arah, yaitu bagaimana orangtua dan anak dapat bersama mengurangi intensitas penggunaan gawai.

Orangtua bisa secara konsisten menetapkan Jam Keluarga setiap harinya dimana baik orangtua maupun anak harus berhenti menggunakan gawai mereka untuk melakukan kegiatan bersama.

family eating in table
Tetapkan Jam Keluarga bebas dari Gawai (sumber gambar: Wikimedia Commons)

 

Selain, itu ada sejumlah hal yang dapat dilakukan secara khusus oleh orangtua untuk mengendalikan penggunaan gawai mereka ketika sedang bersama anak, yaitu:

1. Pasanglah mode diam atau silent pada gawai

Salah satu gejala nomophobia adalah phantom phone atau telepon genggam hantu. Ketika kita berusaha menjauhkan gawai, kadang kita merasa seakan-akan telepon genggam atau gawai kita berbunyi atau bergetar. Padahal tidak. Kita merasa seakan-akan ada yang sedang berusaha menelepon kita. Padahal tidak. Rasa cemas akan gawai yang mungkin berbunyi atau bergetar ini bisa diatasi dengan memasang mode diam atau senyap. Anda dapat mulai menyangkal perasaan bahwa gawai Anda berbunyi atau bergetar, dan mencegah diri sendiri untuk menghampiri gawai.

 

2. Matikan atau kurangi semua notifikasi sosial media maupun aplikasi chat melalui menu pengaturan/setting

notifications
sumber gambar: https://blog.frontiersin.org

 

Tahukah Anda bahwa mengurangi jumlah notifikasi yang bertubi-tubi masuk di gawai kita dapat mengurangi tingkat stres? Begitulah hasil penelitiannya. Pastikan Anda mematikan layanan notifikasi dan hanya memeriksa notifikasi dari berbagai sosial media dan aplikasi lainnya ketika sedang tidak bermain bersama anak. Apabila notifikasi itu tidak berjajar di layar kita memanggil-manggil untuk dibuka, maka kita akan lebih mudah mengontrol hasrat kita untuk memainkan gawai.

 

3. Selalu gunakan gambar latar, bentuk logo, serta tema warna yang polos atau sederhana di gawai

grayscale phone
sumber gambar: nbcnews.com

 

Warna-warni yang mencolok dari gambar latar, screensaver atau logo-logo yang ada di gawai kita ternyata bisa menentukan seberapa lama perhatian kita tersita oleh gawai. Cobalah gunakan gambar latar yang polos, logo-logo sesederhana mungkin tanpa warna-warna mencolok, atau gunakan tema serba abu-abu agar gawai tidak selalu terlihat menarik untuk ditengok.

Membangun Hubungan Positif dengan Gawai

Menyadari betapa pandainya gawai dalam menyita perhatian kita tidak berarti bahwa keluarga harus sepenuhnya meninggalkan penggunaan gawai. Gawai portabel telah menjadi salah satu pilar kehidupan modern saat ini dan telah memasuki dinamika keluarga sehari-hari. Orangtua harus menyadari peran lebih mereka untuk memanfaatkan gawai sebagai alat untuk meningkatkan hubungan positif antara orangtua dan anak.

Membentuk hubungan positif antara orangtua dan anak dengan memanfaatkan gawai bisa dilakukan dengan meningkatkan digital literacy atau kepandaian atau kecerdasan menggunakan gawai. Di era saat ini, orangtua tidak hanya berperan dalam meregulasi atau membatasi penggunaan gawai, tetapi juga untuk membina kemampuan anak untuk dapat menggunakan gawai secara efektif dan kritis dengan menyelusuri, menilai, memilah serta menyusun informasi yang baik dan benar sesuai kelompok usia mereka.

Alih-alih membiarkan anak terus menerus melihat orangtua tersita oleh gawainya dan mengabaikan si anak, ajaklah anak untuk melihat sisi positif penggunaan gawai. Menonton video yang mendidik kemudian mendiskusikannya. Setelah berdiskusi orangtua bisa mengundang anak untuk memilih aplikasi atau situs yang menarik menurut si anak. Tidak jarang pula anak menjadi tertarik melakukan suatu kegiatan positif setelah ia melihat video atau tampilan situs yang menarik yang mempromosikan kegiatan tersebut.

Contohnya, video sosialisasi GERNAS BAKU atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku yang dibuat dengan sangat apik dan ramah anak ini berikut ini:

GERNAS BAKU adalah gerakan bersama masyarakat untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di satuan pendidikan Pendidikan Usia Dini, dan di masyarakat. GERNAS BAKU merupakan gerakan dibawah koordinasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kemdikbud.

Tujuan dari gerakan ini membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak selain untuk menumbuhkan minat baca anak sejak dini, tetapi juga untuk membangun perlekatan yang erat antara orangtua dan anak. Dengan tampilan video yang menarik seperti di video promosi GERNAS BAKU tersebut, anak-anak pasti lebih mudah untuk diajak membaca buku bersama orangtuanya.

Nah, Ayah Bunda, selamat berjuang mengendalikan penggunaan gawai untuk anak dan diri sendiri!

Referensi

Harris, Tristan. 27 Juli 2016. The Slot Machine in Your Pocket. Diambil dari: http://www.spiegel.de/international/zeitgeist/smartphone-addiction-is-part-of-the-design-a-1104237.html. (12 Agustus 2018)

Hiniker, A., Sobel, K., Suh, H., Sung, Y. C., Lee, C. P., & Kientz, J. A. 2015. Texting While Parenting: How Adults Use Mobile Phones While Caring For Children At The Playground. Proceedings of the 33rd annual ACM conference on human factors in computing systems April 18 – 23, 2015 (hlm. 727-736). Diambil dari: https://doi.org/10.1145/2702123.2702199. (12 Agustus 2018)

Jatnika, Yanuar. 4 Januari 2018. Dampak Negatif Main Hape Sambil Mengasuh Anak. Diambil dari: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4541. (10 Agustus 2018)

Jatnika, Yuniar. Hasil Survey: Anak Berharap Orang Tua Lepaskan Gadget. Diambil dari:https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4223. (10 Agustus 2018)

McDaniel, B. T., Galovan, A. M., Cravens, J. D., & Drouin, M. 2018. Technoference and implications for mothers’ and fathers’ couple and coparenting relationship quality. Computers in Human Behavior, 80(C), 303-313. Diambil dari:https://doi.org/10.1016/j.chb.2017.11.019. (10 Agustus 2018)

McDaniel, Brandon. 25 Mei 2017. Technoference in Parenting: Is Your Mobile Device Distracting You From Your Child? Diambil dari: https://ifstudies.org/blog/technoference-in-parenting-is-your-mobile-device-distracting-you-from-your-child. (10 Agustus 2018)

Rannard, Georgina. 23 Mei 2018. I wish mum’s phone was never invented. Diambil dari: https://www.bbc.com/news/blogs-trending-44224319. (13 Agustus 2018)

Vox. It’s not you. Phones are designed to be addicting. Feb 23, 2018 Diambil dari: https://www.youtube.com/watch?v=NUMa0QkPzns (13 Agustus 2018)

Tulisan ini diajukan untuk mengikuti Lomba Blog Pendidikan Keluarga Kemendikbud RI dengan tema: Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian

#sahabatkeluarga #kemendikbudRI

Bukan “AKU”

chairil-anwar-ada-yang-berubah-ada-yang-bertahan-karena-zaman-tak-bisa.
kami sudah coba apa yang kami bisa
tapi kami belum selesai kami
jauh dari selesai
.
kami belum mati kami mau hidup seribu tahun lagi tapi di masa pembangunan ini para pahlawan yang kami kagumi tak hidup kembali
kami kepayahan menemukan hati di antara gedung, rangka bata baja pada cerita ubin kaca serta bertingkat-tingkat tangga
.
kami sendiri-sendiri. berjalan menyisir pertigaan perempatan berbaris-baris saling mendahului. kami hirup asap-asap dan terik matahari. kami kecil-kecil hanya sesak oleh harap asal bisa selamat hingga ke suatu tempat sekalian kami ingin dipuja-puji seperti puisi pejuang yang manis di gigi
.
di atas kami berlapis-lapis berdiri banyak sekali. berpedang instruksi dan acapkali caci maki. cakap menggiring ke kanan dan ke kiri tapi terantuk jatuh tengkurap menghiba-hiba kala musuh tiba
.
musuh yang membawa hitungan angka. ya! angka-angka diselipkan sekian demikian agar hilang sekalian oleh tangan-tangan yang haus kekuasaan. musuh mulut-mulut gincu yang cuap berbuih-buih keuntungan sendiri.
.
mereka yang kini terbaring di antara Krawang-Bekasi tak bisa teriak “Merdeka!” dan angkat senjata lagi tapi kami yang kecil-kecil ini juga sama tinggal tulang berselimut ketakutan. kami mati muda dalam bungkam. kami punah dalam keseganan. kami sudah coba apa yang kami bisa tapi kerja belum selesai jauh dari selesai.
.
apalah jiwa kami yang mati hidup ini berilah kami arti. kami ingin berteriak memaki “Jangan tunduk!” tentang dengan berani. Sampai binasa segala sampai tidak menyisa apa-apa.
.
tapi kereta sudah tiba dan pintu membuka tak lama. kami barisan berselempang semangat tak padam dan sedikit harapan berjejalan sambil berjanji: esok hari, mudah-mudahan esok hari akan sampai waktuku. tak perlu sedu sedan itu. aku akan meradang menerjang meniscayakan perubahan.
.
kenang-kenanglah kami.
teruskan, teruskan jiwa kami.
beribu kami berserakan di sepanjang bumi pertiwi.

ciangsana, 27012018
*diadaptasi dari banyak bait puisi Chairil Anwar (Aku, Diponegoro, Krawang-Bekasi, Hampa, Senja di Pelabuhan Kecil, dll)
*entahlah sore ini kenapa jadi baca puisi akupun tak mengerti

Cloudy with a Chance of Flower Shower

babyshower9Kanda twirl.  Her peony patterned skirt bobbed around as she made little jumps and turns. She looked up and pointed her finger to the clouds.
“Kakak, that one looks like jasmine.”

Her older sister steal a glance.

“Is it different with the rose shaped one? And the orchids?”
“Yeaa….”
“I swear you kept pointing the same cloud for different shapes.”

Kanda giggle. “I didnt.”

Someone approach them from behind, tugging Kanda’s sister by her arm. Her voice brimming with concerns.

“Hello Noura, you’re walking Kanda back to school?” She asked.

Kanda squint her eyes. Its the lady who lives several blocks away from their house. Kanda forgot her name. She often saw Mama talk to her whenever they run into each other. The lady also joined the Pe-Ka-Ka or something, working with Mama to take care of the community garden, where mixed flower, herbs and vegetables grown together.

“Yes, Bu Tio. Kanda has enough holiday.” Her sister voice cuts Kanda’s wandering mind.

Bu Tio, right its her name. Now Kanda grinning sheepishly. Bu Tio suddenly lower herself to be on Kanda’s eye level. Her eyes looks glazed.

“I am sorry for your loss, Kanda. You are so strong.” Bu Tio’s voice started cracking.

Kanda raised her eyebrows. “Its okay.”
“Kakak said Mama is happy now. Up there in the sky.”

Her older sister corrected. “I said in heaven.”
“But you pointed to the sky.”
A short silence and then her older sister nodded.
“I did.”

Kanda rest her little hand on top of Bu Tio’s shoulder. Grazing it softly. “Its okay, Bu,” she whispered.
“Dont be sad. Look at the flowery sky.”

Bu Tio looked up. The ever so randomly clumps of cloud spotted and splattered the sky. Rather than sculpted flowery shape, Its grayish white color looked grim and dim against the frosty blue. Kanda’s cheery little voice creeping in.

“I think Mama will give me a flower shower today.”

Review Belanja di Dekoruma

screen-shot-2017-06-05-at-10-00-12-pm.png

Nemu Dekoruma ini nggak sengaja, karena liat iklan di instagram deh kalau nggak salah. Buka situsnya dan berasa, ya Allah, kok manis lucu ya (Emak-Emak emang paling lemah sama yang lucu-lucu). Tampilannya minimalis ala ikea dan berasa fresh, nggak terlalu berjejal kaya homepage laza** atau situs market place sejenis.

Karena kebetulan lagi ngisi-ngisi rumah dengan berbagai pernik dan perabot, mulailah browsing hiasan dindingnya karena namanya aja situs dekoruma ya bok, deko-ruma, ya nyarinya dekorasi dululah #alasan

Pembelanjaan pertama, saya beli tiga item hiasan dinding berupa pigura kata-kata catchy (wajib berhubungan dengan kopi), pigura heksagon dengan gambar 3D es krim, dan pigura kaligrafi ayat kursi bernuansa shabby.

Screen Shot 2017-06-05 at 9.55.02 PM

Belajar dari pengalaman belanja di Zalo** dan Laza** yang mana kalau beda vendor maka itu barang bakal diitung beda ongkir dan beda paket pengiriman, beda kurir, beda hari, pokoknya liyeur lah, maka tiga pigura itupun saya pesan dari satu vendor saja dengan berharap tiga-tiganya datang di satu paket yang sama.

Begitu keranjang belanja check-out, lantas transfer via sms-banking beres, serunya nggak ada lima menit kemudian langsung ada sms pemberitahuan dari Dekoruma kalau pembayaran sudah diterima. Keren banget! Tanpa perlu upload bukti transaksi, klik link ribet, isi form lalala, udah langsung di-sms kalau pembayaran sudah diterima. Kayanya sistemnya otomatis mengenali begitu kita transfer angka unik yang disertakan di total pembelanjaan kita.

Beberapa hari kemudian, saya terima email dari Dekoruma, yang isinya memberitahukan kalau barang pesanan saya sudah dikirim. Email itu berisi nomor resi dan nomor kontak CS Dekoruma untuk melacak pesanan kalau-kalau ada masalah. Oke, good. Saya pulang hari itu dan tanya orang rumah, ada paket nggak, katanya nggak ada. Baiklah.

Besoknya, ada email yang persis sama dengan email kemarin dari Dekoruma. Intinya pesanan sudah dikirim, harap sabar menunggu. Akan datang dalam 2-3 hari. Besoknya, email yang sama datang lagi. Dan besoknya, datang lagi! Setelah tiga kali Dekoruma kirim email pemberitahuan ke saya, jreng, barulah paket saya sampai di rumah! Alhamdulillah.

Packingannya bagus, dibungkus bubble wrap, dan dibungkus kertas, kemudian dilapis lagi dengan lembaran karton, terakhir dibebat dengan lakban. Barangpun sampai dengan aman tanpa gores atau apapun.

Sayangnya, kualitas pigura agak cacat dan nggak rapi, nggak sebagus yang di gambar display website, haha, ya kali ya mau nyamain foto studio yang udah di touch-up sama produk asli. Bagaimanapun juga dengan harga murah meriah gitu, kayanya ya sebandinglah sama kualitas barangnya, dipajang juga tetep keliatan eye-catching nan cantik.

 

Setelah kelar urusan beli-beli pigura ini, saya nyoba beli meja kerja dan kursi kerja buat pak suami. Di rumah baru kita, belum ada meja kerja sama sekali dan saya sering kasian liat pak suami ngerjain kerjaannya di meja kabinet tv kita.

Kali ini belanja di Dekoruma pakai dua vendor, alias dua penyedia barang yang berbeda, toh tetep aja semuanya free ongkir dari gudang empunya barang ke rumah saya di Cibubur. Sempet kebayang sih keribetan ngelacak kedatangan dua barang di hari yang berbeda dan jasa pengiriman yang berbeda. Tapi Bismillah, dicoba dulu, siapa tau aja lancar nggak kaya pengalaman yang kemarin-kemarin.

Dua hari setelah pembayaran saya dikonfirmasi, meja kerja si ayah dateng. Tanpa susah tanpa masalah, barang segede itu (merek JYSK, ukuran 120x60x84) dianter damai ke rumah saya. Nah, tapi kedatangan kursinya pake drama dulu. Setelah seminggu lebih berlalu, itu kursi nggak dateng-dateng juga. Sementara layanan email otomatis Dekoruma yang saya ceritakan di atas entah sudah berapa kali mengirim notifikasi harian kalau barang sudah dikirim.

Nggak tahan (dikirimin email terus), saya pun menelepon CS Dekoruma, kenapa kok itu kursi nggak dateng-dateng juga. Si CS mengecek kode pemesanan saya beberapa menit kemudian menyampaikan kalau si kursi sedang di-reschedule jadwal pengirimannya karena saya nggak merespon sms dari jasa kurir pengantaran.

“Hah?”

“Iya, Bu, sms harus dibalas dulu, karena untuk pengantaran barang berukuran besar, kita harus pastikan ada orang di rumah.”

“Ya ampun Mbak. Info penting kaya gitu diemail juga ngapa.”

Saya buru-buru memeriksa hp, dan terselip di antara deretan notif sms e-banking, iklan, penyedia seluler, gojek dan grab, dll dsb, sms dari jasa kurir yang mau nganter kursi tersembunyi dengan manisnya.

“Ibu harus balas dulu.”

“Mbak, kok beda-beda gini sih, kemaren meja segede bangkong dianter gitu aja ke rumah tanpa ada sms-sms segala. Ini kursi aja kok. Di rumah saya selalu ada orang, udah anter aja.”

Kira-kira gitu deh percakapannya.

Anyway busway, besoknya itu kursi langsung dianter. Cakep bgt, pak suami sampe jerit-jerit (nggak ding, lebay, haha) dan bilang saya istri paling oke hore sedunia. Bahkan putri saya ikutan hepi karena dia bisa numpang twirling di kursi kerja baru bapaknya. Emang kampung banget keluarga kita mah.

WhatsApp Image 2017-06-04 at 23.10.44

Jadi gitu deh, meskipun email berantai dari Dekoruma ini rada nyebelin dan jasa kurirnya beda-beda aturan, menurut saya mah tetep untung belanja di Dekoruma.

Pilihannya banyak, harganya bersaing sesuai moto Dekoruma harga jujur, free ongkir, konfirmasi pembayaran supercepet nggak pake repot, dan CS-nya sangat responsif. Mudah-mudahan pelayanan Dekoruma makin baik kedepannya, Aamiiiin YRA.

Bantul Hidden Heaven : Taman Wisata Gunung Mungker dan Hutan Pinus Prengger Dlingo

Beberapa minggu yang lalu saya ditugaskan dinas ke pedalaman Bantul, Yogyakarta dan bertemu Bapak Lurah Desa Terong. Setelah selesai diskusi terkait persiapan kunjungan Delegasi ASEAN ke Bantul di Juni nanti, sang Bapak mengajak kami mengunjungi Taman Wisata Gunung Mungker.

Ini obyek wisata yang tengah susah payah ia rintis bersama warga desa, untuk meningkatkan perekonomian warga. “Banyak-banyak selfie ya Mbak, pasang di fesbuk sama insta ya Mbak.” Pak Lurah berpesan sumringah.

Lho, ga usah disuruh aja pasti selfie, apalagi pakai disuruh pak😂

“Dipasang ya, biar pada datang.” Ia mengingatkan lagi. Saya tertawa, belum tau aja ini Pak Lurah kalau yang promo begituan itu bagusnya ngundang bloher travel kawakan, bukan ngundang pegawai remah-remah kaya saya.

Jadilah sore menjelang senja itu dari kantor Lurah kami menuju ke taman wisata. Saya heboh duluan, karena kebetulan pakai sepatu wedges lima senti, yang meski nggak banget-banget tinggi, tapi kan tetep ngeri.

“Nanti turunnya pakai flying fox aja, Mbak, biar ngga ribet.”

Et deh si Pak Lurah, makasih. Saya merinding duluan melihat sulur jalur flying fox yang panjangnya sampai 120 meter itu.

Sesampainya kami di atas, saya menggigil. Puncak gunung yang lebih mirip bukit itu lumayan tinggi, angin menerpa kencang, sejuk dan menenangkan. Saya yang berbulan-bulan lama terjebak di belantara beton dari satu gedung ke gedung lainnya, terpana menatapi bentangan langit biru luas berserabut putih kapas. Di Jakarta, langit jarang secerah ini dan udara segar, tentunya, mahal. Semak dan pepohonan selalu rapi, tak bersilang-silang dengan rumpun liar, apik tanpa acak, hanya tak alami.

Pak Lurah sibuk menunjuk ke sana dan ke sini. Gerumbul pohon dan tunas-tunas ia kenalkan; Durian, Mangga, Kelengkeng, Pisang, Jambu, Rambutan, Jeruk, dan Sirsak. Ini gunung kan Pak, bukan supermarket?

“Mau dijadikan Agrowisata juga nantinya, Mbak.” Canggih bener, Pak.

 

Jadi kalau Bapak/Ibu/Adik/Kakak punya waktu, bermainlah ke Taman Wisata Gunung Mungker yang merupakan wilayah pegunungan diantara pedukuhan Pencit Rejo dan Sendang Sari. Dari puncak Mungker kita bisa melihat view wilayah yogyakarta bagian timur (wilayah Gunung Kidul) dengan properti foto yang sangat instagrammable. Taman Wisata Gunung Mungker juga cocok untuk arena Camping dan Outbond karena pelataran bawahnya yang luas.

Selain view dari puncak gunung, di kaki gunung juga terdapat lapangan yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan misalnya untuk senam. Tak terlalu jauh, ada hutan Pinus Prengger Dlingo, a hidden pine heaven, yang keren abis. Katanya sih tempat ini lagi ngehits banget.

Awalnya spot wisata Hutan Pinus yang terkenal di Bantul memang hanya Hutan Pinus Mangunan, tapi itu mah udah terlalu mainstream lah ya. Hutan Pinus Prengger ini nggak kalah keren dari Mangunan dengan tempat-tempat selfie yang keren, mau cari tampilan yang romantis, yang mistis, misterius, lengkap dengan lansekap alam yang mengagumkan ada semua.

Bagaimana rute menuju dua tempat wisata yang terletak di Desa Terong, Bantul ini? Gampang saja, naik mobil dari kota Jogja menuju Bukit Bintang melewati Jalan Wonosari, nanti Anda akan menemui Perempatan Pathuk, tinggal ambil arah kanan menuju Dlingo, sekitar 4 km sampai deh. Jaraknya dari kota Jogja sekitar 25 km, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

 

Pesan saya cuma satu : jangan pakai sepatu wedges saat mendaki. Even though it looks good in the picture, yes seriously😝😝😝

http://terong.bantulkab.go.id/index.php/first/artikel/341